Percepatan akan timbul jika suatu
benda kita dorong atau kita tarik dengan suatu gaya. Pada kesempatan ini kita
akan mempelajari Hukum Newton tentang gerak. Ada tiga Hukum Newton tentang
gerak. Hukum Newton 1 erat hubungannya dengan pernyataan Galileo (1564 – 1642)
tentang inersia. Galileo menyatakan bila pengaruh luar dari suatu benda
benar-benar dihilangkan, maka suatu benda akan tetap diam bila pada mulanya
diam, dan akan tetap bergerak dengan kecepatan konstan bila pada mulanya
bergerak dengan kecepatan konstan.
1. Hukum pertama Newton tentang gerak
Hukum pertama Newton berbunyi : hukum 1 : Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau
bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya. (dalam bahasa aslinya : ”lex 1 : Corpus omne perseverare
in statu suo quiescendi vel movendi uniformiter in directum, nisi quatenus a
viribus impressis cogitur statum illum mutare” (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_gerak_Newton)).
Jika resultan gaya-gaya yang bekerja
pada suatu benda sama dengan 0, maka suatu benda yang diam akan tetap diam atau
benda yang bergerak dengan kecepatan konstan akan tetap bergerak dengan
kecepatan konstan atau secara matematis dapat ditulis:
Artinya benda akan bergerak dengan
suatu percepatan jika jumlah gaya – gaya yang bekerja pada benda tersebut tidak
sama dengan nol. Bila suatu benda sedang bergerak dengan suatu kecepatan
konstan, maka benda tersebut akan tetap bergerak walaupun tidak ada gaya yang
bekerja pada benda tersebut, namun jika pada suatu benda yang bergerak dengan
kecepatan konstan diberikan suatu gaya sehingga resulta gaya-gaya yang bekerja
tidak sama dengan nol, maka benda tersebut akan mengalami percepatan atau
perlambatan. Kondisi ini sulit diwujudkan pada kondisi normal di ruang terbuka,
karena udara dan media luncur akan selalu memberikan gesekan (gaya) yang
menyebabkan suatu benda akan berhenti bergerak (mengalami perlambatan) namun
pada kondisi ruang hampa dan bebas gravitasi seperti di angkasa luar, kondisi
ini sangat mudah terwujud. Contoh seperti meteor yg bergerak bebas jauh dari
pengaruh gravitasi benda-benda langit yang lainnya.
Sebuah satelit yang telah diluncurkan
akan terus mengorbit bumi dengan kelajuan konstan, tetapi kecepatan selalu
berubah arah dengan besar yang tetap. Resultan gaya-gaya yang bekerja pada
satelit tersebut tidak sama dengan 0, karena ada gaya sentripetal yang bekerja
pada satelit sehingga satelit mengalami percepatan sentripetal. Dan bila
satelit tersebut hendak dipindahkan posisinya, maka sebuah vektoring roket akan
dihidupkan secara implus ( memberikan gaya dorong sesaat) sehingga satelit akan
mengalami percepatan atau perlambatan yang mengubah arah dan besar
kecepatannya. Dalam hal ini satelit tidak melakukan GLB. Ini sering di salah
artikan seolah-olah resultan gaya pada satelit adalah nol.
Gambar 1 sebuah satelit yang sedang
melakukan manuver menggunakan roket vektor untuk memberikan gaya implus selama
beberapa detik sehingga mengubah arah dan besar kecepatan satelit (sumber
: http://www.voughtaircraft.com/heritage/products/html/asat.html
2. Hukum
kedua Newton tentang gerak
Perhatikan gambar 2 berikut ini.
Gambar 2 gaya pegas,
massa dan percepatan
Pada gambar 2 terdapat sebuah pegas yang dipasang secara
horizontal dengan sebuah beban pada sebuah bidang yang tidak ada gesekannya
sehingga sistem ini dapat bergerak tanpa gesekan. Pada kondisi pertama (b) terdapat
massa m2 pada pegas kemudian pegas
diregangkan sejauh X, dan dilepas, maka benda m2 akan mengalami percepatan sebesar a2. Kemudian pada kondisi kedua sebuah massa m1 dipasang mengantikan massa m2 dimana m1 > m2 , kemudian diregangkan sejauh X sama dengan kondisi
pertama dan dilepaskan, maka benda m1 juga akan
mengalami percepatan sebesar a1 ternyata setelah
kita ukur, didapat:
F adalah gaya tarik pegas yang
besarnya konstanta pegas dikalikan dengan regangan X.
Hukum kedua Newton menyatakan gaya yang
bekerja pada sebuah benda sama dengan perubahan momentum linier (p) terhadap
waktu (t) atau dapat ditulis :
Persamaan (1) di atas dapat
diselesaikan menjadi :
Untuk kasus kecepatan benda yang jauh
lebih kecil dari kecepatan cahaya maka dm/dt dapat diabaikan sehingga persamaan
(2) dapat disederhanakan menjadi :
F adalah gaya yang bekerja pada suatu
benda, m adalah massa benda dan a adalah percepatan pada pusat massa benda.
Untuk kasus dengan banyak gaya yang bekerja pada benda, maka F adalah resultan
dari gaya-gaya yang bekerja pada benda tersebut.
Hukum kedua Newton dalam bahasa
aslinya (latin) berbunyi:
“Lex II: Mutationem motus proportionalem esse vi motrici impressae, et
fieri secundum lineam rectam qua vis illa imprimitur.” (sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_gerak_Newton)
Diterjemahkan dengan cukup tepat oleh
Motte pada tahun 1729 menjadi:
“Law II: The alteration of motion is ever proportional to the motive
force impress’d; and is made in the direction of the right line in which that
force is impress’d.”
Yang dalam Bahasa Indonesia berarti:
“Hukum Kedua: Perubahan dari gerak selalu berbanding lurus terhadap gaya
yang dihasilkan / bekerja, dan memiliki arah yang sama dengan garis normal dari
titik singgung gaya dan benda.”
3. Hukum ke tiga Newton tentang gerak
Bunyi asli hukum ke tiga Newton adalah
:
“Lex III: Actioni contrariam semper et æqualem esse reactionem: sive
corporum duorum actiones in se mutuo semper esse æquales et in partes
contrarias dirigi”
Dapat diartikan : “untuk setiap aksi selalu ada
reaksi yang sama besarnya tetapi berlawanan arah, atau gaya dari dua benda pada
satu sama lainnya selalu sama besar dan berlawanan arah”
Hukum ke 3 Newton ini dikenal dengan
hukum aksi dan reaksi yang secara matematis dapat ditulis :
Jika kita menarik sebuah tali yang
terkait pada sebuah tembok, maka tembok juga akan menarik kita dengan gaya yang
sama besar tetapi berlawanan arah dengan gaya tarik yang kita berikan, seperti
pada gambar dibawah ini.
Gambar 3 ilustrasi hukum Newton 3
(sumber :http://www.mwit.ac.th/~physicslab/applet_04/physics_classroom/Class/newtlaws/u2l4a.html)
Namun ada beberapa kasus yang tidak
termasuk gaya aksi dan reaksi seperti halnya gaya normal dengan gaya berat.
Dalam sebuah sistem (lihat gambar 4 ) terlihat 2 buah gaya ini besarnya sama
dan berlawanan arah, tetapi 2 gaya ini bukan pasangan gaya aksi dan reaksi.
Gaya berat merupakan reaksi (timbul) akibat adanya gaya tarik bumi. Sehingga
gaya berat merupakan pasangan dari gaya tarik benda terhadap bumi. Sedangkan
gaya normal merupakan reaksi (timbul) karena adanya gaya tekan benda terhadap
permukaan meja.
Gambar 4 gaya berat dan
gaya normal
Syarat gaya aksi dan reaksi adalah :
1.
Sama besar
2.
Berlawanan arah
3.
Bekerja pada satu garis
gaya
4.
Bekerja pada 2 benda
yang berbeda
Dalam kehidupan sehari-hari hukum
Newton cukup mumpuni untuk digunakan menyelesaikan beberapa kasus fisika, namun
untuk kasus-kasus yang melibatkan kecepatan yang tinggi (mendekati kecepatan
cahaya), kasus-kasus dalam skala ukuran yang sangat kecil seperti atom dan
turunannya atau medan gravitasi yang sangat kuat, hukum Newton tidak
dapat lagi digunakan. Penjelasan untuk kondisi ini membutuhkan pendekatan
fisika yang lebih komplek seperti teori medan kuantum dan teori relativitas
umum.
Jika ada salah mohon
dikoreksi, untuk kebaikan bersama, terima kasih.








No comments:
Post a Comment